Anak Remaja, Konsep Teori Dan Prilaku Tumbuh Kembang

Anak Remaja
Prilaku Tumbuh Kembang Pada Anak Remaja

Semua melewati Masa Menjadi Anak Remaja, Sebab Tidak Ada Orangtua Tanpa Proses Anak Remaja Sebelumnya.

Atozbi.com, Hubungan – Anak Usia Remaja Adalah Masa Peralihan Dari Anak-Anak ke Dewasa Yang Membutuhkan Kematangan.

Definisi Anak Remaja

Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional.

Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba. Tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).

Tahap Perkembangan Remaja

Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa :

Remaja Awal (Early Adolescence)

Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran–heran akan perubahan-perubahan yang terjadi.

Pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.

Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis.

Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap “ego”.

Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.

Remaja Madya (Middle Adolescence)

Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senag kalau banyak teman yang menyukainya.

Ada kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya.

Remaja Akhir (Late Adolescence)

Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.

  1. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
  2. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
  3. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
  4. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
  5. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

Karakteristik Perkembangan Remaja

Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan menjadi :

Perkembangan Psikososial

Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong (2009), menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya identitas.

Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas dan berkembangnya stabilitas emosional. Dan fisik yang relatif pada saat atau ketika hampir lulus dari SMU.

Pada saat ini, remaja dihadapkan pada krisis identitas kelompok versus pengasingan diri.

Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari keluarga dan mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran.

Identitas kelompok menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan identitas pribadi.

Identitas kelompok

Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok semakin kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal yang penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok. Dan kelompok dapat memberi mereka status. Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan minat berpenampilan, gaya mereka segera berubah.

Identitas Individual

Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan yang mereka kembangkan antara diri mereka sendiri.

Dengan orang lain di masa lalu, seperti halnya arah dan tujuan. Yang mereka harap mampu dilakukan di masa yang akan datang.

Identitas Peran seksual

Pengharapan seperti ini berbeda pada setiap budaya, antara daerah geografis, dan diantara kelompok sosioekonomis.

Emosionalitas

Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa remaja akhir. Mereka mampu menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan walaupun masih mengalami periode depresi.

Emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan dirinya dapat diterima masyarakat.

Mereka masih tetap mengalami peningkatan emosi, dan jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka menggambarkan perasaan tidak aman, ketegangan, dan kebimbangan.

Perkembangan Kognitif

Mereka dapat mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana perjalanan wisata.

Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem. Atau serangkaian nilai-nilai dalam perilaku yang lebih dapat dianalisis.

Perkembangan Moral

Remaja dapat dengan mudah mengambil peran lain.

Mereka memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain.

Dan juga memahami konsep peradilan yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan.

Dan perbaikan atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah.

Namun demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan

Sering sebagai akibat dari observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa. Tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.

Spiritual

Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri. Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan.

Membandingkan agama mereka dengan orang lain dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri. Tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.

Perkembangan Sosial

Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga. Dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua.

Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik dari remaja maupun orang tua.

Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika mereka mencoba untuk memahami tanggung jawab. Yang terkait dengan kemandirian.

Hubungan Anak Remaja Dengan Orangtua

Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari menyayangi dan persamaan hak.

Proses mencapai kemandirian sering kali melibatkan kekacauan dan ambigulitas. Karena baik orang tua maupun remaja berajar untuk menampilkan peran yang baru.

Dan menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat bersamaan, penyelesaian sering kali merupakan rangkaian kerenggangan.

Yang menyakitkan, yang penting untuk menetapkan hubungan akhir. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk mengembangkan hak-hak istimewanya, mereka sering kali menciptakan ketegangan di dalam rumah.

Mereka menentang kendali orang tua, dan konflik dapat muncul pada hampir semua situasi atau masalah.

Hubungan dengan teman sebaya

Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian besar kehidupan, bagi sebagian besar remaja.

Teman sebaya dianggap lebih berperan penting ketika masa remaja dibandingkan masa kanak-kanak. Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan kekuatan dan kekuasaan.

Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001) antara lain :

  1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
  2. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
  3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
  4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
  5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
  6. Mempersiapkan karier ekonomi
  7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
  8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi

Keanggotaan Keluarga

Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis (Duval, 1972 dalam Setiadi 2008), yaitu :

  1. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah.
  2. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.
  3. Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah. Ibu dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada orang tuanya.

Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja

 Menurut Sarwono (2011) Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anakterakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan adaatau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.Tugas perkembangan :

  1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
  2. Mempertahankan keintiman pasangan.
  3. Membantu orang tua memasuki masa tua.
  4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
  5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap Perkembangan Anak  Usia Remaja

Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan oleh adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga. Terus menerus mengritik atau buat komentar-komentar yang merendahkan. Tentang penampilan atau perilaku anggota keluarga, sering terjadi selama tahun-tahun awal masa remaja. Pada saat ini hubungan keluarga biasanya berada pada titik rendah. (Sarwono. 2011)

Peran, Tanggungjawab dan Masalah Orangtua.

Tidak perlu dikatana bahwa orangtua mengasuh remaja merupakan tugas paling sulit saat ini.

Namun demikian, orangtua perlu tetap tegar menghadapi ujian batas-batas yang tidak masuk akan tersebut. Yang telah terbentuk dalam keluarga ketika keluarga mengalami proses “melepaskan.” Duvall (1977)

Schultz (1972) dan lain-lain telah mengungkapkan pandangan mereka bahwa kompleksitas kehidupan Amerika. Yang telah meningkat telah membuat peran orangtua tidak jelas.

Orangtua merasa berkompetisi dengan berbagai kegiatan sosial dan institusi – mulai dari otoritas sekolah dan konselor. Hingga keluarga berencana dan seks pranikah dan pilihan kumpul kebo.

Faktor-faktor lain menambah pengaruh mereka yang semakin berkurang tersebut. Karena adanya spesialisasi jabatan dan profesi, orangtua tidak lagi bisa membantu anak-anak mereka dengan rencana-rencana untuk bekerja.

Mobilitas penduduk dan kurangnya hubungan orang dewasa yang kontinu bagi remaja dan orangtua. Selain ketidakmampuan banyak orangtua untuk mendiskusikan masalah-masalah pribadi.

seks, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan obat-obatan secara terbuka dan tidak menghakimi bersama anak-anak.

Mereka juga memberikan kontribusi pada masalah-masalah orangtua-remaja.

Sumber Lainnya : Konsep BBLR Atau Berat Bayi Lahir Rendah. Dan Jangan Bandingkan Anak Dengan Yang Lain, Ini 7 Cara.

Serta Pubertas Pada Perempuan dan Laki-laki, Gejala, Tahapan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *