Bara Beach Suasana Kampung, Bermanja Dengan Ombak Dan Debur Pasirnya

Atozbi.com, Lautan – Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam yang dimiliki. Sebagai representasi benua maritim. Dengan budaya maritim, yang terdiri dari laut dengan keanekaragaman hayati dalam laut, serta keindahan pantai untuk pariwisata. Diantara pantai yang indah di Indonesia, terletak di Kabupaten Bulukumba dengan Pantai Bira. Dalam beberapa waktu terakhir, kini hadir Bara Beach dengan pariwisata bernuansa atau suasana kampung.

Suasana kampung yang menarik mereka. Akhirnya 4 orang kawanan muda Makassar melakukan penelurusan. Sebab sepengetahuan mereka, di Bira dengan pembangunan yang pesat membuat kondisi alami bertambah dengan nuansa modern. Hal ini terlihat dari bangunan-bangunan yang ada. Meskipun pada hakikatnya, sampai saat ini kita masih bisa merasakan lembutnya pasir putih menyentuh telapak kaki yang ada di Bira.

Mendengar suasana kampung, ini menggugah selerea untuk mengunjunginya.

Suasana Kampung Dan Pohon Kerdil Yang Menggoda

Sore itu, sekelompok anak muda ingin menikmati tempat tersebut. Sebagai bentuk persiapan maka mereka 4 orang berteman mencari informasi mengenai daerah Bara Beach, atau pantai Bara yang tersorot kilatan blitz dan mata kamera yang instagramable.

Mereka memutuskan untuk menuju kelokasi, berbekal informasi di Facebook. Mereka menuju ke Kabupaten Bulukumba. Salah satu akun facebook Indah Ayuni Sari. Dengan ramah memberikan penjelasan mengenai kondisi di Pantai Bara dan juga Pantai Bira.

Baca juga: Lautan Mematikan Dalam A To Z Laut Berbahaya Dunia

Sesekali Indah menjelaskan tentang titik Nol dan sebagainya kepada mereka, namun mereka belum berpikir untuk menjelajah didaerah lain. Sebelum mereka menginjakkan dan merasakan suasana kampung di Bara Beach.

Dalam perjalanan, mereka terus melakukan komunikasi dengan free guide tersebut. Dan saling mengabarkan posisi.

Sore itu, suasana di pintu masuk agak sepi. Mereka berhenti pada jarak 200 meter dari posisi pengambilan karcis. Mereka masih bisa menatap dikejauhan lampu rem kendaraan yang berhenti pelan.

Motor yang dikendarai seorang wanita mendekat. Memeriksa nomor polisi kendaraan yang mereka pakai. Dan wanita itu menyapa dengan ramah.

Rupanya yang menyapa ini adalah free guide yang selama perjalanan dengan waktu 4 jam selalu membalas chat mereka. Dengan memakai kacamata hitam dan pakaian syar’i, berwarna ungu muda.

Free Guide Yang Ramah

Wanita itu mempersilahkan dan mengarahkan untuk diikuti. Mereka memasuki Kawasan Bira setelah membayar karcis masuk. Di balik kaca tempat membayar retribusi seorang lelaki dengan ramah pula mengucapkan “terima kasih”. Setelah menyerahkan uang kembalian biaya retribusi pariwisata. Biaya retribusi masuk Bira, murah.

Sekira 100 meter setelah masuk di kawasan tersebut. Mereka diarahkan belok kanan, oleh wanita dengan senyum manis tersebut. Mereka diatas mobil saling menatap dan menjadi bingung, sebab kearah depan itu menuju ke Bira. Kenapa harus berbelok kekanan.

Wanita itu berhenti diseberang jalan. Didekatnya berdiri seorang wanita lebih Ayu, yang sedang sibuk memainkan Handphone. Kayaknya sedang Video Call.

Salah satu dari mereka diatas mobil membuka jendela. Indah memperhatikan dan menunggu, keduanya saling menganggukkan kepala. Mereka mengerti tanpa dijelaskan setelah wanita tersebut mengangkat tangannya memberikan arah Bara Beach.

Di Bara Beach, Suasana Serasa Di Kampung

Sekira 3 menit kemudian mereka sampai di kawasan Bara. Pohon-pohon besar dan ada pula yang kerdil menjadi penampakan. Diantara bebatuan yang ada.

Beberapa bangunan batu mereka lewati. Tidak menggoda. Mereka mencari yang alami dan suasana kampung.

Mereka berhenti di sebuah Villa yang memiliki pekarangan yang luas, segera mereka parkirkan kendaraan. Dan mereka menatap bebatuan, tetap sama. Masih cukup tajam di pinggiran pondasi bangunan dan celah lubang didekat bangunan kampung itu.

Bara Beach Dengan Suasana Kampung
Salah Satu Rumah Penginapan Di Bara Beach Dengan Suasana Kampung (Sumber Foto: Atozbi.com)

Indah mengarahkan mereka untuk berjalan menuruni tangga yang sangat dekat, sekira 15 meter dari tempat parkiran mereka.

Mereka kehabisan kata setelah melihat pantai dengan ombak yang bermanja dan debur pasirnya yang lembut. Sama saja warna pasir putih di Bira dan Bara. Posisi ketinggian penginapan sekira 5 meter dari permukaan laut.

Penginapan Yang Murah

Survey, dan prakondisi wisata hari ini telah cukup. Hari menghampiri malam. Selanjutnya berpikir untuk menginap dimana. Mereka kembali ke posisi parkiran mobil.

Mereka parkir tepat di BaraTara Villa. Memperhatikan tekstur bangunan yang tradisional, dan juga ada beberapa bangunan batu. Mereka mengarahkan pandangan. Di antara berkas sinar sore yang menguning.

Villa Baratara
Bangunan Dengan Latar Belakang Pepohonan (Foto: Istimewa)

Mereka hendak menginap ditempat itu, karena melihat suasananya yang dekat dengan pantai. Parkiran luas. Didepan penginapan itu ada warung menjual kopi dan mie siram yang di jaga oleh seorang ibu tua dengan wajah yang bijak. Dan disamping kanan warung tersebut terdapat tempat mengambil gambar dari bangunan kayu. Instagramable.

Tertulis, menginap disini, gratis ban. Namun mereka enggan bertanya sebab persiapan biaya mereka dari Makassar tidak seberapa. Fasilitas bagus dan posisi penginapan yang dekat sekali dengan pantai.

Namun tetap saja penasaran. Mereka tidak bisa redam. Mereka saling menatap, pertanda berharap bisa mengetahui harga kamar.

Desahan Ombak

Suasana desahan ombak masih terdengar jelas. Satu dari mereka melepaskan sandal, dan merasakan tajamnya bebatuan. Refleksi gratis.

“Kalau penginapan di sini, kira-kira 750.000 perkamar yah?” salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya. Yang lainnya pura-pura tidak mendegar. Ada pula yang menatap percikan ombak yang menabrakkan diri pada sisi pasir putih.

Wanita itu tertawa, dan langsung menahan. “Tidak, Disini harganya tidak segitu”

Mereka menunjukkan wajah kecewa dan malu. Sebab mereka sudah membayangkan harganya dan fasilitasnya. Penginapannya jutaan rupiah.

“Kalau kakak mau nginap disini, cukup dengan Rp 500.000 perkamar, sebenarnya masih ada harga kamar dibawah harga tersebut. Tapi telah penuh (terisi)” Lanjut wanita tersebut.

Baca juga: Kota Terdingin Republik Indonesia, Ruang Pariwisata dan Honeymoon

Mereka saling bertatapan kembali pertanda ada angin segar. Dan bersahabat dengan kantong mereka.

Entah apalagi yang mereka bicarakan. Dan sore itu mereka deal. Selanjutnya mereka menginap.

Ketika malam hari mereka berecengkrama didepan kamar yang berukuran 2 x 4 meter. 1 orang dari mereka kewarung memesan kopi untuk mereka. Nampak ibu tua itu mengantarkan kopi pesanan mereka. Diskusi mereka melebar sampai larut malam. Sayup terdengar suara ombak.

Bara Beach dengan sensasi dan suasana di kampung benar-benar mereka rasakan. Tidak hanya suara ombak, tapi mereka juga mendengarkan sahutan suara binatang malam. Jangkrik.

Mereka menikmati, liburan kampung tersebut. Keesokan hari, mereka berpamitan pada pemilik Villa, dan tidak lupa menuliskan nomor seluler dan berharap untuk bisa kembali menginap di Pantai Kampung Bara. 082187609913. Nomor ini diserahkan oleh ibu penjaga warung yang terlihat guratan diwajahnya.

Demikian kisah perjalanan 4 orang berkawan dari Makassar, yang menceritakan kisahnya ke Redaksi Atozbi.com

Author: admin

Tinggalkan Komentar