Tahapan Kode Etik Rasulullah Dalam Berdakwah Dijalan Allah SWT

Kode Etik Rasulullah Muhammad
Kode Etik Rasulullah Muhammad SAW Dalam Berdakwah

Dengan kode etik, dan terukur, Rasulullah menyampaikan Dakwah Islam hingga keseluruh dunia.

Atozbi.com, Tahapan – Kode etik atau aturan gaya Komunikasi Rasulullah Nabi Muhammad SAW, adalah adab yang perlu dipelajari.

Kode etik tersebut menjadi bahan atau sumber literatur Adab Komunikasi yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah.

Dalam berbicara, rasulullah memiliki strategi komunikasi yang akurat, sebab dengan waktu hanya belasan tahun melakukan syiar Islam. Yang menempatkannya sebagai urutan pertama pada penempatan 100 tokoh berpengaruh dunia.

Untuk menambah wawasan dalam hal komunikasi, sebagai Nabi terakhir dari urutan 25 Nabi dan Rasul.

Berikut beberapa adab yang dimiliki beliau, sebagaimana dikutip dari buku ‘Teladan Nabi Muhammad SAW’. Dari Republika.Com, berikut Adab komunikasi Rasulullah sebagai Rosul terbaik Nabi Muhammad SAW:

Kode Etik Konten Komunikasi Rasulullah

Dalam hal konten atau isi pesan, Nabi Muhammad SAW menyampaikan dengan cara:

1. Singkat dan Sangat Padat

Sebagaimana sabdanya “Aku diutus dengan Jawami’ al-Kalim (ucapan singkat tetapi sarat makna)… (HR. Bukhari, kitab at-Ta’bir)

Menjadi pendengar yang baik, beliau lebih banyak diam daripada berbicara.

Dalam kajian Komunikasi karakter komunikasi, bahwa diam merupakan suatu komunikasi yang baik.

Singkap dalam menyampaikan namun isi pesan padat dan fasih, seperti itu gaya komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW

2. Klarifikasi Tiga Kali

Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW, “Bahwasanya apabila mengucapkan salam, beliau mengucapkannya tiga kali dan apabila berbicara, beliau mengulanginya tiga kali pula.” (HR. Bukhari, Kitab Ilmu)

Ibnu Qayim RA berkata, “Sering kali beliau sengaja mengulang perkataannya dengan tujuan agar bisa dipahami. Apabila memberi salam, beliau mengucapkannya sebanyak tiga.” (Zadul Ma’ad, hlm.101)

3. Tidak Lebih Tidak Kurang

Hadits dari Urwah Bin Az-Zubair RA meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata, “Tidakkah kamu heran dengan Abu Hurairah RA yang datang lalu duduk di samping kamarku menyampaikan suatu hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW. Ia bermaksud memperdengarkannya kepadaku, padahal ketika itu aku sedang bertasbih (berzikir). Lalu, ia pergi sebelum aku menyelesaikan zikirku.”

4. Konten Pesan Bermanfaat

“Siapa yang beriman  kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018)

Ibnu Hajar berkata, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna, semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya.”

Konten bermanfaat tersebut, menjadi inspirasi yang banyak diadopsi dalam metode komunikasi Imphas Pilar.

Etika Dalam Setiap Komunikasi Rasulullah

Sebagai Media Dakwah Penyebaran Agama Islam, maka komunikasi Rasulullah SAW dengan Adab yang baik. Telah disamaikan diatas tentang bagaimana konten yang disampaikan Rasulullah SAW.

Etik Teladan Nabi Muhammad Saat Bicara

Berikutnya yang bisa diteladani adalah beberapa style atau gaya komunikasi atau Adab berbicara dalam Komunikasi Rasulullah SAW, yakni:

Pertama, Berjalan dengan Berwibawa

Pada keseharian, ketika akan tampil didepan orang banyak, maka gaya jalan yang perlu menjadi perhatian. Dengan jalan pelan dan berwibawa.

Kedua, Kaki Tidak Treseret

Hal berjalan, Rasulullah tidak menyeret kaki. Cara jalan ini sudah menjadi budaya, dan sekarang sudah hampir tidak pernah dijumpai orang yang menyeret kaki.

Ketiga, Pandangan Mengarah Kebawa

Dengan pembelajaran Imphas Pilar, posisi wajah menjadi ukuran apakah orang tersebut sopan atau sombong.

Memposisikan kepala adala penting dalam setiap berkomunikasi.

Mengadopsi cara memandang Rasulullah adalah penting, untuk mepertahankan nilai-nilai kesopanan saat berkomunikasi.

Keempat, Memulai Dengan Salam

Tidak ada yang mendahului beliau dalam mengucapkan salam. Selalu mendokan keselamatan dan ketentraman pada orang lain diawal.

Kelima, Jabat Tangan Yang Hangat

Bertemu dengan orang lain, beliau mempertahankan jabat tangan erat dan kehangatan. Tidak pernah lebih dulu melepaskan jabat tangan setiap yang berjabat tangan dengannya.

Keenam, Bergaul Terbuka

Tidak membedakan kawan atau lawan. Bergaul dengan siapa saja, sebagai Adab komunikasi ideal yang dimiliki Rasulullah

Ketujuh, Tidak Sinis

Ujung maja yang sinis, atau pandangan sinis, tidak dimiliki oleh Rasulullah pada setiap komunikasi sebagai adab bicaranya.

Kedelapan, Isyarat Tangan

Dalam menunjuk sesuatu, adab Rasulullah untuk isyarat tidak memakai mata tetapi komunikasi dengan gestur tangan.

Kesembilan, Diam lebih Banyak

Pembicara yang baik, bukan yang banyak bicara sebab Rasulullah merupakan komunikator terbaik. Tapi lebih banyak diam daripada bicara.

Kesepuluh, Menghadapkan Wajah

Berbicara dengan orang lain, beliau selalu memperhadapkan wajahnya kepada siapa ia berbicara. Bukan melirik apalagi membelakangi.

Kesebelas, Tidak Pernah Bersandar

Hal ini saat di hadapan masyarakat, umat atau sahabat secara terbuka, tidak menunjukkan gestur bersandar.

Keduabelas, Tidak Menceritakan Kesalahan orang lain

Adab mencengankan dalam Komunikasi Rasulullah adalah bila seseorang melakukan kesalahan. Beliau tidak akan pernah menyampaikan kesalahan tersebut kepada orang lain.

Ketigabelas, Tidak Mengadili Kesalahan

Rasulullah Tidak pernah mencela kesalahan seseorang yang mengalami kesalahan bicara.

Keempatbelas, Menghindari Berselisih

Lebih banyak berdiskusi, tidak pernah berdebat apalagi berselisih dengan orang lain.

Kelimabelas, Memotong Diwaktu yang tepat

Pada dasarnya, Adab Rasulullah saat berkomunikasi, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain. Kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.

Keenambelas, Memberi Apresiasi

Beliau senantiasa memberikan puji dan mendukung pekerjaan baik. Sementara yang bernilai buruk beliau melarangnya.

Ketujuhbelas, Menghargai Orang Lain

Jauh dari sifat atau adab merendahkan orang lain. Tapi beliau lebih banyak memberikan penghargaan pada oranglain. Beliau memuji kebaikan.

Kedelapanbelas, Tidak Pernah Memaki

Rasulullah SAW dalam Adab Bicara atau Komunikasi, tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan panggilan yang bermakna jelek.

Kesembilanbelas, Tidak mengutuk

Beliau Rasulullah termulia tersebut, tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya. Atau dalam hal komunikasi disebut proyeksi, yakni menghardik orang lain.

Demikian 19 Adab Rasulullah Saat Menyampaikan Pesan atau Komunikasi Rasulullah yang memiliki Adab Santun Dan Menghargai.

Belajar Komunikasi bisa dibuka di Artikel ini, Metode terbaru Komunikasi. Dan Karakter Komunikasi, Beda Dengan Publik Speaking

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *